BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN

III.I Data – data

Kegiatan dalam industri properti dapat dijadikan indikator seberapa aktifnya kegiatan ekonomi yang sedang berlangsung. Setiap kegiatan ekonomi pada dasarnya akan selalu membutuhkan produk properti sebagai salah satu faktor produksi. Perkembangan kegiatan properti memberikan dampak berganda (multiplier effect) terhadap perkembangan sektor lain yang terkait secara langsung maupun tidak langsung. Dalam hal tidak terdapat permintaan terhadap produk properti, mengindikasikan bahwa perekonomian dalam situasi yang kurang berkembang. Di sisi lain perkembangan properti yang terlalu aktif sehingga mengakibatkan over-supply juga dapat mengganggu perkembangan ekonomi apabila terjadi bubble burst sehingga terjadi penurunan harga secara drastis. Gangguan dalam industri properti ini dapat mempengaruhi kondisi perbankan secara langsung melalui kinerja debitur properti dan secara tidak langsung melalui likuiditas dan penurunan nilai jaminan kredit. Menyadari bahwa gangguan dalam industri properti akan mempengaruhi stabilitas perbankan, perilaku pembiayaan industri properti saat ini perlu diketahui kecenderungannya seperti contohnya dalam pembiayaan bank akan melihat lokasi proyek yang bisa dibiayai oleh bank dan juga mengetahui rasio terhadap tingkat pendapatan para konsumen dalam pembelian property berikut table di bawah menerangkan tentang persentase dari tahun ke tahun jika dambil contoh sampel yaitu berada di daerah jabodetabek. Pangsa pembiayaan oleh bank dengan mengambil contoh berdasarkan pinjaman bank.

Lokasi proyek yang dibiayai oleh bank  di daerah jabodetabek

tahun

Lokasi dalam (%)

2000

20

2001

46.6

2002

53,5

2003

53,5

2004

53,5

Rasio kredit terhadap tingkat pendapatan konsumen

Jenis property Rasio kredit terhadap tingkat pendapatan konsumen Dalam (persentase)
Rumah <70 30.78
Rumah >70 29.67
Apartemen 21.25
Ruko 27.61
Shop mall 23

Mengatasi Pembiayaan Bermasalah dengan resiko sekecil mungkin dapat melihat contoh BMT Dana Insani dimana mereka akan mengatasi pembiayaan bermasalah dengan melakukan penagihan secara efektif dan rutin, maksudnya adalah terencana dan terjadwal sampai habis jangka waktu pembiayaannya. Selain itu, petugas BMT juga akan melakukan kontrol atau pengawasan, pengecekan dan penanganan yang lebih intensif bagi pembiayaan yang bermasalah tersebut. Jika sampai habis jangka waktunya namun anggota belum melunasi pembayaran maka pihak BMT akan memberikan surat peringatan sebanyak tiga kali. Pada surat ketiga, intinya adalah menanyakan kesanggupan anggota untuk menyelesaikan angsurannya. Jika anggota menyatakan tidak sanggup untuk membayar maka barang jaminan akan dilelang.

III.II Hasi Perhitungan

(X1, X2 dalam satuan persentase)

Y X1 X2
1 20 30.78
2 46.6 29.67
3 53.5 21.25
4 53.5 27.61
5 53.5 23
∑ = 15 ∑ = 227.1 ∑ = 132.31

Y = 38.3610 – 0.1726X1 + 1.0611 X2

III.II Analisis

Uji t = Ho = ada pengaruh siginifikan dari tiga sector terhadap tingkat pembiayaan

Ha = tidak ada pengaruh signifikan dari tiga sector terhadap tingkat pembiayaan

>0.05 ho diterima

Lokasi pembiayaan oleh bank = 0.793 >0.05

Kesimpulan : ada pengaruh signifikan dari tiga sector jika dilihat dari lokasi pembiayaan oleh bank terhadap tingkat pembiayaan.

Ho :ada pengaruh rasio dari pendapatan terhadap tingkat pembiayaan

Ha : tidak ada pengaruh rasio dari pendapatan terhadap tingkat pembiayaan

Rasio dari pendapatan = 0.2993 >0.05

Kesimpulan : ada pengaruh signifikan dari tiga sector jika dilihat dari rasio dari pendapat konsumen terhadap tingkat pembiayaan.

Kesimpulan dan Saran

Berdasarkan hasil survei tersebut diperoleh informasi berikut ditinjau dari lokasi proyek yang dibiayai oleh perbankan, secara umum saat inimenunjukkan bahwa alokasi kredit properti oleh perbankan nasional relatif cukup merata. Hal ini terindikasi dari jumlah bank yang memberikan kredit pada setiap wilayah pulau relatif berimbang. Data ini juga menunjukkan operasional perbankan sudah merata di seluruh wilayah Indonesia. Selain itu, perkembangan penyebaran operasional perbankan dari tahun ke tahun cenderung semakin meningkat, khususnya dalam kredit konsumsi.Sebagian besar proyek properti masih berada di wilayah Jabodetabek dengan pangsa tertinggi ada pada segmen perumahan >70 m2, sedangkan proyek di Jawa, Sumatera dan Kawasan Timur Indonesia relatif berimbang dalam dominasi perumahan < 70 m2 dan > 70 m2.

Pelaksanaan pembiayaan proyek dengan prinsip musyarakah dengan mengmbil contoh Bank Syariah Mandiri Cabang Mataram Nusa Tenggara Barat, penggunaannya oleh masyarakat masih rendah bila dibandingkan dengan pembiayaan lain seperti qardh, murabahah, dan mudharabah.rendahnya penggunaannya lebih dipengaruhi berbagai faktor, seperti

a. Sulit mencari dan mendapatkan nasabah (mudharib) yang jujur,

berkarakter baik dan berintegritas tinggi, dan pekerja keras;

b. Tingginya resiko yang harus ditanggung oleh pihak bank; dan

c. Kesulitan Likuiditas.

Untuk pembiayaan dalam sector BMT diambil dari sampel yang berbeda dengan contoh BMT Dana insani dan BMT BIF Nitikan diketahui

A. Praktek pembiayaan murabahah pada BMT digunakan untuk pembelian

barang konsumsi maupun barang dagangan (pembiayaan tambah modal) yang

pembayarannya dapat dilakukan secara tangguh (jatuh tempo / angsuran).

B. Risiko yang pernah dialami ke tiga BMT dalam pelaksanaan pembiayaan

murabahah adalah :

1. BMT Dana insani dan BMT BIF Nitikan mengalami risiko

penyalahgunaan dana oleh anggota, sedangkan BMT Amratani Sejahtera

mengalami risiko tidak dapat membelikan barang yang dibutuhkan

anggota.

2. BMT Dana Insani dan BMT BIF Nitikan belum pernah mengalami risiko

yang terkait dengan obyek yaitu karena pembelian barang diwakilkan

kepada anggota. Sedangkan pada BMT Amratani Sejahtera, tidak

dapat membelikan barang yang dibutuhkan anggota jika barangnya

anggota.

Saran :

 

Dalam hal pembiayaan di berbagai sector perlu adanya kerjasama diantara pengembang yang mampu menciptakan situasi win-win solution yang bersifat sinergi dapat merupakan salah satu solusi untuk mampu menciptakan industry properti yang lebih efisien dan mampu memenuhi kebutuhan konsumen dan menjangkau daya beli masyarakat.Dan juga dalam pembiayaan oleh perbankan juga dapat melihat seberapa penting bank-bank non konvensional yang saat ini banyak berdiri sebagaimana yang dilakukan oleh bank syariah dengan melakukan pembiayaan proyek dengan prinsip musyarakah sebagai medote pembiayaan yang didasarkan pada keikutsertaan bank bersama-sama dengan nasabah untuk suatu proyek tertentu dalam menghasilkan laba atau rugi.dan ketika dalam pembiayaan terdapat masalah-masalah diharapkan adanya kontrol atau pengawasan, pengecekan dan penanganan yang lebih intensif bagi pembiayaan yang bermasalah tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s