Kawin Sirih

MARAKNYA KAWIN SIRIH

Akhir-akhir ini kawin sirih dan poligami marak banget, dan menjadi nge-trend. Nggak politisi, nggak artis, nggak pengusaha, nggak ulama, nggak orang biasa, kok sekarang banyak yang melakukan kawin sirih. Bahkan ada yang malah mau membawa perkara ke pengadilan karena satu pihak merasa tidak melakukan kawin sirih sedangkan pihak yang lain mengakui melakukan perkawinan tersebut. Zaman dulu kawin sirih nggak sesemarak sekarang. Pasti ada, mungkin namanya kawin kampung kalau di desa. Dengan berubahnya zaman mungkin, kawin sirih menjadi marak. Alasannya bermacam-macam, ada yang nggak pengin berzinah, ada yang pengin mengenal dulu pasangannya sebelum menikah resmi tercatat dalam dokumen negara dll.

Ada seorang perempuan Indonesia menikah dengan seorang asing dengan cara kawin sirih. Yang menikahkan adalah ayah pihak perempuan. Seperti layaknya perkawinan sirih, tentu saja ada saksi. Yang jadi saksi waktu itu ulama juga. Setelah menikah, suami meninggalkan istrinya pulang ke negaranya untuk sementara. Dia menitipkan perusahaannya untuk di-manage istrinya sementara dia pulang ke negaranya. Kebetulan memang suaminya ini punya perusahaan di Indonesia. Istrinya melakukan apa yang diminta oleh suaminya. Sang istri berusaha me-manage sebaik-baiknya sesuai kemampuan dia.

Setelah beberapa lama, si suami balik lagi ke Indonesia. Apa yang terjadi?

Si suami mengambil alih semua tetek bengek perusahaan tapi dia tidak mau mengakui perkawinan sirih dengan istrinya ini. Alasannya tidak ada satu dokumen pun yang bisa membuktikan kalau mereka menikah. Pihak istri beserta keluarganya tentu saja nggak rela. Mereka melaporkan kepada polisi. Tapi polisi dan pengadilan nggak bisa memproses, karena nggak ada bukti atau dokumen resmi yang menyatakan kalau mereka menikah. akhirnya menjadi masalah. Itulah resikonya kawin sirih.

Kalau di Tanya mau menikah sirih atau menikah agama dan negara?

nggak mau kalau mengalami kejadian kayak gitu. Ada hukum negara yang bisa digunakan untuk melindungi kalau pernikahan tercatat dalam dokumen negara. Jadi kalau ada apa-apa,  bisa minta perlindungan hukum. Karena dalam Pasal 28B Ayat 1 tentang Hak Asasi Manusia megatakan bahwa “ Setiap orang berhak membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan yang sah”.  Kalau kawin sirih, memang sah menurut agama, tapi kalau terjadi apa-apa dengan perkawinan, nggak bisa ngapa-ngapain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s